Furisode nan menawan

Furisode (振袖) adalah kimono berlengan lebar yang dikenakan wanita muda yang belum menikah. Dibuat dari bahan berwarna cerah, motif kain berupa bunga dan tanaman, keindahan musim, binatang, atau burung yang digambar dengan tangan memakai teknik yuzen. Kain bisa bertambah mewah dengan tambahan bordiran benang emas.

Bukaan di bagian lengan kimono yang berdekatan dengan disebut furiyatsuguchi (振八つ口). Bukaan tersebut sengaja tidak dijahit hingga membentuk kantong lengan baju yang disebut tamoto () hingga ke bagian ujung lengan kimono. Lebar tamoto pada furisode bisa mencapai 114 cm atau menjuntai hingga sekitar pergelangan kaki.

Menurut urutan tingkat formalitas, furisode adalah kimono paling formal setara dengan kurotomesode, irotomesode, dan homongi. Furisode dikenakan sebagai pakaian terbaik untuk pesta perkawinan (ketika hadir sebagai tamu atau sebagai baju pengantin wanita), miai, dan upacara resmi, seperti seijin shiki, wisuda, atau resepsi sesudah wisuda (shaonkai). Alas kaki untuk furisode adalah zōri berhak tinggi.

Sejarah

Bukaan pada bagian lengan kimono (furiyatsugichi) mulanya berasal dari kimono (kosode) untuk anak-anak yang sengaja dibiarkan terbuka lebar di bagian ketiak. Baju anak tidak dijahit di bagian ketiak agar anak merasa sejuk karena mereka lebih banyak bergerak dibandingkan orang dewasa. Dalam lukisan Chigotaishi asal zaman Kamakura terlihat seorang anak mengenakan kosode yang memiliki furiyatsuguchi.

Model kimono dari Cina mulanya berlengan sempit. Bagian lengan berbentuk pipa seperti halnya lengan baju pakaian Barat. Kimono berlengan sempit kurang nyaman dikenakan di Jepang yang beriklim lembap. Bagian lengan kemudian dibuat makin lebar supaya angin bebas keluar masuk. Furisode berlengan lebar yang dikenal orang zaman sekarang berasal dari model furisode awal zaman Edo. Ketika itu, furisode dibuat dengan mencontoh kostum berlengan lebar yang dikenakan penari.

Pada paruh pertama zaman Edo, wanita muda memakai kimono dengan bagian lengan (tamoto) yang dibuat makin lebar seiring perkembangan mode. Dari 1658 hingga sekitar 1672, lebar tamoto sekitar 45 cm, namun dari 1684 hingga sekitar 1687, makin melebar hingga 60 cm. Pada periode 17161735, lebarnya sekitar 75 cm, dan makin melebar hingga 87 cm antara tahun 1751 dan 1763. Setelah kehidupan rakyat di pertengahan zaman Edo makin makmur, furisode populer sebagai pakaian kalangan gadis anak pengusaha. Walaupun demikian, baru sejak zaman Meiji, furisode diterima secara luas sebagai pakaian formal wanita muda yang belum menikah.

Sumber:dari beberapa sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s