Budaya minum teh di Cina

Hasil gambar untuk tradisi minum teh di cina

Budaya teh Tionghoa merujuk pada cara-cara menyiapkan teh pada saat meminum teh di Cina. Budaya teh Tionghoa ini berbeda dalam cara menyiapkan, rasa, dan  saat untuk meminum teh dengan yang di negara Eropa, seperti Inggris dan negara Asia lainnya, seperti Jepang. Teh memang masih dikonsumsi rutin, baik dalam acara santai maupun acara resmi. Selain menjadi minuman yang disukai umum, teh juga digunakan sebagai minuman tradisional dan untuk pengobatan.

Minum teh telah menjadi semacam ritual di kalangan masyarakat Tionghoa. Di Cina, budaya minum teh dikenal sejak 3.000 tahun sebelum Masehi (SM), yaitu pada zaman Kaisar Shen Nung berkuasa. Bahkan, berlanjut di Jepang sejak masa Kamakaru (1192 – 1333) oleh pengikut Zen.

Tujuan minum teh, agar mereka mendapatkan kesegaran tubuh selama meditasi yang bisa memakan waktu berjam-jam. Pada akhirnya, tradisi minum teh menjadi bagian dari upacara ritual Zen.

Selama abad ke-15 hal itu menjadi acara tetap berkumpul di lingkungan khusus untuk mendiskusikan berbagai hal.

Meski saat itu belum bisa dibuktikan khasiat teh secara ilmiah, namun masyarakat Tionghoa sudah meyakini teh dapat menetralisasi kadar lemak dalam darah, setelah mereka mengonsumsi makanan yang mengandung lemak.

Mereka juga percaya, minum teh dapat melancarkan buang air seni, menghambat diare, dan sederet kegunaan lainnya.

Kebiasaan meminum teh

Terdapat berbagai adat khusus mengenai bagaimana teh disiapkan dan diminum di Cina

  • Sebagai bentuk penghormatan

Di dalam masyarakat tradisional Cina, anak muda menunjukkan penghormatannya pada yang lebih tua dengan menawarkan secangkir teh. Saat liburan, pergi ke restoran untuk minum teh bersama orang yang lebih tua merupakan hal yang umum. Di masa lalu, orang dengan kasta yang lebih rendah menyajikan teh kepada orang dengan kasta lebih tinggi. Namun dengan liberalisasi masyarakat Cina sekarang, adat kebiasaan ini mulai memudar. Kadang kala orang tua menuangkan anaknya secangkir teh untuk menunjukkan kepedulian, atau bahkan seorang bos menuangkan teh untuk anak-anak buahnya untuk membentuk relasi yang baik.Bagaimanapun juga, dalam acara resmi, adat mendasar tetap ditaati.

  • Acara Keluarga

Setelah anak-anak meninggalkan rumah untuk kerja/menikah, mereka jadi jarang menghabiskan waktu waktu dengan orang tua. Maka, pergi ke restoran dan minum teh menjadi kegiatan yang penting untuk membentuk lagi ikatan keluarga. Setiap hari minggu restoran di Cina penuh dengan keluarg, apalagi saat liburan. Fenomena ini membuktikan pentingnya teh dalam nilai kekeluargaan di Cina.

  • Permintaan Maaf

Menawarkan teh bisa menjadi bagian dari permintaan maaf resmi di budaya Cina. Misalnya, seorang anak yang sudah salah bertingkah laku bisa menyajikan teh ke orang tuanya sebagai tanda penyesalan dan meminta ampun.

  • Sebagai tanda terima kasih dan merayakan pernikahan

Pada upacara pernikahan adat Cina, mempelai pria dan wanita berlutut di depan orang tua masing-masing dan memberikan teh kemudian berterima kasih pada mereka. Hal ini merupakan cara yang sopan dan saleh untuk mengekspresikan bentuk terimakasih karena telah dibesarkan. Dalam beberapa acara, mempelai pria menyajikan teh ke orang tua mempelai wanita, dan sebaliknya untuk menandakan penggabungan dua keluarga.

https://sacunslc.files.wordpress.com/2016/10/86f96-teh2.jpgTeh merupakan sumber utama pendapatan bagi desa di Wujiatai, yang terletak di wilayah pegunungan barat provinsi Hubei China tengah. Desa ini telah terkenal sebagai penghasil teh sejak dinasti Qing ketika dipuji oleh Kaisar Qianlong.

sumber: dari beberapa sumber

Akupunktur

Hasil gambar untuk apa itu akupuntur

Akupunktur adalah salah satu dari cabang utama kedokteran Tradisional Cina. Dalam praktiknya, sebuah terapi akupunktur melibatkan penggunaan jarum yang ditusukkan ke beberapa titik spesifik pada tubuh. Proses ini dipercaya dapat menyesuaikan dan mengubah aliran energi menuju pola yang lebih sehat, dan ini digunakan untuk mengatasi berbagai macam penyakit dan keluhan kondisi kesehatan.

Bagaimana Akupunktur Bekerja

Penjelasan klasik dari kedokteran Cina adalah bahwa di dalam tubuh kita terdapat saluran-saluran energi yang memiliki pola tertentu di seluruh bagian dan permukaan tubuh kita. Saluran energi yang dikenal dengan meridian ini dapat dibayangkan seperti sungai yang mengalir ke seluruh tubuh kita seperti sistem irigasi yang menghidupkan jaringan-jaringan di tubuh kita. Sebuah hambatan pada pergerakan sungai energi ini bersifat layaknya sebuah bendungan yang menghambat laju alir ke sisi setelahnya.

Meridian-meridian ini dapat dipengaruhi kinerjanya menggunakan penusukan pada titik-titik akupunktur, jarum-jarum tersebut akan mengangkat sumbatan pada bendungan energi dan mengembalikan aliran yang seharusnya pada meridian-meridian. Terapi Akupunktur dapat membantu organ dalam pada tubuh untuk membenahi ketidakseimbangan pada fungsi pencernaan, penyerapan dan aktivitas produksi energi serta sirkulasi energi dari organ-organ dengan mendayagunakan sistem meridian.

Penjelasan saintifik modern menyatakan bahwa penusukan titik-titik akupunktur merangsang sistem syaraf untuk melepaskan zat-zat kimia di otot-otot, tulang belakang dan otak. Zat-zat kimia ini akan mengubah pengalaman atas rasa nyeri atau memicu pelepasan zat kimia dan hormon lainnya yang mempengaruhi sistem regulasi internal tubuh sendiri.

Keseimbangan energi dan biokimia yang meningkat oleh terapi akupunktur pada akhirnya akan merangsang kemampuan penyembuhan alami tubuh, dan untuk meningkatkan kondisi kesehatan fisik dan emosi.

Apa saja yang bisa ditangani menggunakan Akupunktur?

Terapi Akupunktur merupakan sebuah sistem yang dapat mempengaruhi 3 area di bidang perawatan kesehatan:

  • Peningkatan kesehatan dan kualitas hidup
  • Pencegahan penyakit
  • Penanganan terhadap berbagai macam kondisi kesehatan.

Meskipun akupunktur sering diasosiasikan dengan manajemen rasa nyeri, di tangan seorang praktisi akupunktur yang terlatih dengan baik sistem ini dapat digunakan untuk aplikasi kesehatan yang lebih luas. Akupunktur dapat berkhasiat meskipun berdiri sendiri, atau sebagai penunjang atau pelengkap dari perawatan medis konvensional dalam banyak kelainan medis atau pasca operasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengakui penggunaan akupunktur pada penanganan sejumlah masalah kesehatan seperti:

  • Masalah pencernaan : gastritis, maag, tungkak lambung, spasme usus besar, konstipasi (sembelit), diare
  • Masalah pernafasan: sinusitis, radang tenggorokan, bronkhitis, asma, infeksi dada kambuhan
  • Masalah syaraf dan otot: sakit kepala, pusing, kedutan, nyeri leher, nyeri pada iga, bahu kaku, nyeri pada siku, berbagai macam peradangan otot, nyeri tulang belakang / pinggang bawah, skiatika, osteoarthritis
  • Masalah urinasi, menstruasi dan reproduksi.

Akupunktur seringkali berkhasiat dalam menangani masalah fisik terkait ketegangan, stres dan kondisi emosional.

Sejarah dan Asal Usul Akupunktur

Kitab asli Kedokteran Cina yang terkenal adalah Nei Ching, Kitab Kesehatan Klasik Kaisar Kuning, diperkirakan terbit setidaknya 2500 tahun yang lalu. Sejak saat itu, ribuan buku mengenai pengobatan Cina pun banyak ditulis dan filosofi dasarnya tersebar sejak lama dalam berbagai kebudayaan Asia. Hampir semua bentuk pengobatan Oriental yang digunakan di Barat saat ini, termasuk Akupunktur, Shiatsu, pijat Akupresur dan makrobiotika adalah bagian atau berakar pada pengobatan Cina. Legenda mengatakan bahwa Akupunktur dikembangkan saat dokter perintis di Cina meneliti efek tak terduga dari luka tusukan di tubuh seorang prajurit Cina. Kitab tertua Akupunktur yang diketahui adalah Sistematika Klasik Akupunktur yang diperkirakan terbit pada tahun 282. Meskipun Akupunktur merupakan salah satu teknik yang paling banyak diketahui, pengobatan Cina juga menggunakan obat-obat ramuan herbal, terapi makanan, perubahan gaya hidup dan cara-cara lainnya dalam mengobati pasiennya.

Pada awal masa 1900-an, hanya beberapa dokter Barat yang mengunjungi Cina dan tercengang kagum ketika bersentuhan dengan Akupunktur, namun bagi kalangan diluar komunitas Asia-Amerika, akupunktur masih belum terlalu dikenal sampai pada tahun 1970 saat Richard Nixon menjadi presiden Amerika Serikat pertama dan mengunjungi Cina. Pada perjalanan Nixon, para jurnalis terkagum-kagum melihat sebuah operasi besar dilakukan pada pasien tanpa menggunakan anestesi. Malahan, pasien yang benar-benar terjaga dioperasi hanya dengan menggunakan penusukan jarum akupunktur untuk mengendalikan rasa sakit. Pada saat itu, seorang kolumnis terkenal dari New York Times, James Reston harus menjalani operasi dan memilih menggunakan akupunktur dibandingkan dengan pengobatan nyeri, dan kemudian dia menulis beberapa cerita yang meyakinkan mengenai efektivitas terapi akupunktur yang ia jalani.

Sekarang, akupunktur dipraktekan di lebih dari 50 negara oleh lebih dari 9000 praktisi akupunktur, dengan setidaknya 4.000 tenaga dokter terlibat di dalamnya. Akupunktur telah menunjukkan keberhasilan yang tercatat dalam menangani banyak kondisi, dan lebih dari 15 juta rakyat Amerika telah menggunakannya sebagai solusi kesehatan mereka.

Gu Qin, alat musik tradisional Tiongkok

Guqin atau qin, adalah alat musik tradisional Tiongkok yang bersenar tujuh. Alat musik ini termasuk kerabat dari keluarga kecapi, dan memiliki sejarah panjang di Tiongkok sekitar 5.000 tahun. Guqin memiliki arti budaya yang sangat luas, dan telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya Tiongkok yang harus dilestarikan. Budayawan kuno dan pejabat menggunakan guqin untuk mengekspresikan keinginan mereka untuk memperbaiki diri, mengharmoniskan keluarga dan memberikan kebaikan bagi orang banyak, juga untuk menciptakan kedamaian bagi masyarakat[1].

Dengan lebih dari 1.000 teknik jari yang berbeda, guqin adalah salah satu instrumen yang paling rumit di dunia untuk dipelajari, dan membutuhkan dedikasi besar untuk menguasainya. Kelincahan tangan dibutuhkan untuk memetik, memilih, menggeser, mendorong, dan menggetarkan senar supaya dapat menghasilkan berbagai suara, dari air yang mengalir hingga ke nada keras dan cerah.

Suara Guqin sangat unik, kebanyakan orang Tiongkok musik guqin bisa membuat orang yang mendengar menjadi tenang dapat dapat dirasakan mendalam. Guqin bisa mengeluarkan suara berkarakteristik, suaranya juga dikenal sebagai “The Voice of Swire”, “nada langit dan bumi.

Guqin, mengandung konotasi budaya yang kaya dan mendalam, selama ribuan tahun telah menjadi objek sastrawan kuno. Guqin dimainkan dengan tenang, keadaan batin yang tenang pikiran akan menjadi satu. Alat musik ini tidak kalah jika dibandingkan dengan alat musik piano karena kualitas musik yang bisa menyesuaikan dengan alam, sangat menarik, sejalan dengan mengejar konsepsi artistik kebudayaan tradisional Tiongkok. Guqin mengajarkan tentang intrinsik dan moral yang bersifat halus, mengandung inti nspiritual tersembunyi budaya Tionghoa, mencerminkan kebajikan. Musik Guqin merupakan tonggak mendalam sejarah dan budaya seni di Tiongkok.

Alat musik Guqin mempunyai bentuk ramping, dan cembung ke atas. Panjang guqin biasanya sekitar empat meter, dengan kepala, leher, bahu, dan pinggang, dan ekor yang menyatu bagai sebuah keajaiban. Permukaan papan yang melengkung mewakili Surga, sementara bagian bawah yang datar mewakili Bumi. Secara tradisional, instrumen ini memiliki lima senar yang terbuat dari sutra, yang melambangkan lima unsur yaitu logam, kayu, air, api, dan bumi. Sedangkan dua senar tambahan pada dasarnya adalah bentuk guqin yang lebih modern. Namun senar sekarang biasanya terbuat dari baja.

sumber: dari beberapa sumber

Bianzhong,alat musik kuno dari Tiongkok

Bianzhong (Hanzi : 编钟) telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, namun alat musik kuno dari Tiongkok ini masih terus dimainkan hingga hari ini. Bianzhong merupakan alat musik Tiongkok kuno yang terdiri dari satu rangkaian lonceng. Alat musik ini terbuat dari perunggu dan digantung pada sebilah papan kayu. Sebuah alat pemukul yang menyerupai palu digunakan untuk membunyikan lonceng-lonceng tersebut sehingga menghasilkan melodi yang indah.

Tiongkok adalah negara pertama di dunia yang membuat dan menggunakan alat musik ini. Sejarah Bianzhong diawali sekitar 3,500 tahun silam yaitu pada zaman Dinasti Shang (1558 SM – 1046 SM). Pada masa itu, Bianzhong digunakan sebagai alat musik oleh kalangan atas dalam upacara-upacara ritual mereka

Bianzhong memiliki beragam bentuk dan setiap lonceng-nya digantung pada papan kayu menurut nada yang dihasilkan. Lonceng-lonceng ini memiliki bagian yang menonjol seperti lensa dan permukaan luarnya terbuat dari baja. Bentuknya tersebut memampukan lonceng-lonceng ini untuk mengeluarkan dua nada berbeda saat dipukul, tergantung dari bagian yang terkena pukulan: bagian depan atau samping. Rentang nada dari setiap lonceng sebanding dengan 4 atau 5 jarak nada pada piano. Lonceng-lonceng ini juga menghasilkan nada yang serupa dengan piano.

Perangkat khusus Bianzhong pada gambar diatas berasal dari tahun 433 SM yaitu dari Periode Negara -Negara Berperang (475 SM – 221 SM), yang digali dari makam Marquis Yi dari Zeng (Hanzi : 曾侯乙; Pinyin : Céng hóu yǐ) di Propinsi Hubei pada tahun 1978. Perangkat dengan jumlah 65 lonceng buah ini merupakan Bianzhong terbesar di dunia. Perangkat yang dilestarikan ini berukuran cukup besar sehingga mampu memenuhi panggung gedung pertunjukan yang dikhususkan untuk musik modern. Perangkat ini mampu mengeluarkan 12 nada dengan jangkauan nada sebesar 5 oktaf.

Lonceng-lonceng Bianzhong memiliki ukuran yang beragam dan diatasnya terdapat gambar atau tulisan yang dapat digunakan sebagai bahan rujukan oleh para ahli tulisan Tiongkok kuno. Lonceng yang berukuran kecil mengeluarkan nada yang tinggi dan halus, sementara lonceng yang berukuran besar menghasilkan nada yang rendah dan nyaring. Alat musik bersejarah ini melambangkan kebijakan Tiongkok kuno dan merupakan bukti keberadaan budaya Tiongkok kuno pada masa lalu.

sumber: dari beberapa sumber

Qi Xi, hari Valentine Cina

Qi Xi (bahasa Tionghoa: Mandarin Pinyin: jié;  arti harfiah Malam Ketujuh), kadangkala disebut Hari Valentine Cina, jatuh pada hari ketujuh dalam bulan ketujuh kalender Cina, maka demikianlah namanya. Berdasarkan tradisi, gadis muda memamerkan keterampilan seni mereka, terutama mengukir melon, pada hari ini dan meluahkan hajat agar bersuamikan pria yang baik. Nama-nama lain bagi pesta ini termasuk:

Cerita Si Sapi

Pada akhir musim panas, bintang Altair dan Vega tinggi menyinar di langit malam, dan orang Tionghoa menceritakan cerita rakyat berikut:

Niulang (bahasa Tionghoa: 牛郎pinyin: niú láng; arti harfiah gembala sapi, bintang Altair) bertemu dengan tujuh peri bersaudari yang sedang mandi dalam danau. Setelah ditimpa temannya yaitu si sapi, Niulang mencuri pakaian mereka dan menunggu apa yang terjadi berikutnya. Peri tersebut memilih yang termuda dan paling jelita antara mereka, yaitu Zhinu (Hanzi sederhana: 织女Hanzi tradisional: 織女pinyin: zhī nǚ, “gadis penenun”, bintang Vega) untuk mendapatkan kembali pakaian mereka. Maka ia melakukan tugasnya, tetapi karena dapat diintai dalam keadaan telanjang oleh Niulang, dia harus merestui lamaran pria tersebut. Zhinu terbukti menjadi seorang istri yang bagus, sedangkan Niulang seorang suami yang baik, maka berbahagialah mereka berdua bersama. Namun begitu, Dewi Kayangan (dalam beberapa versi, yaitu ibu dari Zhinu) murka setelah menemukan bahwa Zhinü telah menikahi manusia biasa. (dalam satu versi yang lain, Dewi tersebut memaksa peri-penenun tersebut kembali ke tugas lamanya untuk menenun awan berwarna-warni di angkasa karena dia tidak bisa melakukan tugas itu ketika menikah dengan manusia). Dewi tersebut melepaskan jepit rambutnya lalu mencakar sungai yang luas di angkasa untuk memisahkan kedua kekasih itu untuk selamanya (maka terbentuknya Bima Sakti yang memisahkan Altair dan Vega).

Zhinu terpaksa duduk di sebelah sungai dan menenun dengan rasa pilu, sementara Niulang merenunginya dari jauh dan menjaga kedua anaknya (yaitu bintang β dan γ Aquilae yang mengapit Altair).

Akan tetapi, setahun sekali semua burung murai di seluruh dunia mencurahkan rasa simpati kepada kedua kekasih itu dan terbang ke kayangan untuk membentuk sebuah jembatan (鵲橋, “jembatan murai”, Que Qiao) di atas bintang Deneb pada rasi Cygnus agar pasangan itu bersama lagi selama semalam, yaitu malam ketujuh dalam bulan ketujuh.

Tradisi

Pada malam Qi Xi, seulas hiasan Berangkai diletakkan di halaman rumah dan wanita yang belum atau sudah baru menikah dalam rumah tangga menghidangkan persembahan yang terdiri dari buah-buahan, bunga-bunga, teh dan bedak muka kepada Niulang dan Zhinu. Setelah persembahan itu, separuh bedak tersebut ditaburkan pada atap rumah dan separuh lagi dibagi antara wanita-wanita lain. Dipercaya bahwa dalam praktik ini wanita-wanita diabadikan dengan kecantikan bersama Zhinu.

Satu lagi tradisi adalah bagi gadis muda untuk melemparkan jarum jahitan kedalam sebuah mangkuk yang penuh diisi air di malam Qi Xi sebagai ujian keterampilan menyulam. Jika jarum itu terapung, adalah dipercaya bahwa gadis itu memang mahir menyulam.

The Flowers of War

The Flowers of War  adalah film drama sejarah  yang disutradarai oleh Zhang Yimou, dan dibintangi oleh Christian Bale, Ni Ni, Zhang Xinyi, Tong Dawei, Atsuro Watabe, Shigeo Kobayashi dan Cao Kefan. Film ini didasarkan pada novel yang ditulis oleh  Geling Yan yang berjudul 13 Flowers of Nanjing,dan di inspirasi oleh buku harian milik Minnie Vautrin.  

Mengambil setting di tengah pendudukan tentara Jepang di Nanking pada tahun 1937, film The Flowers of War berpusat di sebuah gereja dengan seorang warga Amerika bernama John Miller (Christian Bale). John yang merupakan pengusaha pemakaman, datang ke Nanking untuk mengubur pastur yang mengepalai gereja tersebut dan bertemu dengan murid-murid gereja di dalamnya. Tidak lama setelah kedatangannya, sekelompok pelacur flamboyan mendatangi gereja tersebut. Mengingat pada saat itu warga dan institusi asing tidak disentuh oleh tentara Jepang, wanita-wanita tersebut mencari perlindungan di balik John, serta memintanya untuk membawa mereka keluar dari Nanking.

The Flowers of War merupakan film drama-sejarah yang penuh dengan adegan yang agak sulit dicerna. Bukan berarti film ini sulit dimengerti, melainkan adegan-adegan yang disuguhkan menampilkan duka yang harus dihadapi para wanita Nanking semasa pendudukan Jepang. Mereka sama sekali tidak boleh terlihat jika tidak ingin dikejar dan bahkan diperkosa secara bergilir oleh tentara Jepang. Tidak hanya itu, beberapa di antaranya yang berhasil kabur atau melawan balik justru dibunuh secara brutal. Bahkan ada yang terbunuh selama proses pengejaranya.

Film ini berhasil meraih nominasi dalam 84th Academy Awards, 69th Golden Globe Awards, dan 6th Asian Film Awards. Prestasi tersebut cukup menunjukkan bahwa The Flowers of War patut ditonton.  Selain unsur sejarah yang diangkat, alur cerita dan setiap adegan yang disuguhkan tidak terasa membosankan. Film ini khusus untuk dewasa dan bukan film bertema perang biasa yang penuh dengan aksi baku tembak, tetapi drama-sejarah yang ingin menonjolkan nilai kemanusiaan.

 

dari: beberapa sumber

Indahnya Lukisan Tradisional Cina

Lukisan Cina adalah seni tradisional bergambar diberikan di Cina selama lebih dari seribu tahun. Akarnya mengambil sumber dengan cara yang asli berpikir jauh lebih tua yang menekankan kesatuan manusia dan kosmos dan dinamika terganggu alam semesta ini. Lebih dari representasi bentuk , lukisan Cina berusaha untuk mengekspresikan jantung , gerakan internal dari makhluk.

Umumnya , lukisan Cina terdiri dari satu atau lebih puisi , kaligrafi , gambar dicat dan meterai artis. Berbagai metode harus dibedakan :

  1. teknik Gongbi ( The sikat hati-hati atau sikat terampil ) ditandai dengan delicay dan presisi secara rinci.
  2. teknik Baimiao ( Menggambar garis ) menarik hanya kontur dengan tinta hitam. Itu melekat Gongbi.
  3. teknik Mogu ( Tanpa bingkai ) mirip dengan Gongbi , tetapi tidak menarik kontur.
  4. Xieyi teknik ( Untuk menulis ide atau Untuk menulis niat ) ditandai dengan tata letak penuh dan terutama menggunakan prinsip kisaran.
  5. teknik Shuimo ( Tinta dan air ) adalah gaya Xieyi, Tetapi hanya dilakukan dengan tinta hitam , sementara memanfaatkan rentang.

Tujuan dari lukisan Cina untuk melaksanakan di amputasi terbesar pesona artistik membawa makna yang tak terbatas. Memang , dalam pemikiran Cina tradisional , alam semesta terdiri dari napas ( qi ) dari berbagai kepadatan dan selalu bergerak , sumber kehidupan. Untuk menciptakan napas ini dalam foto memberi hidup dan membentuk hubungan langsung antara alam semesta , lukisan dan manusia. Dengan demikian tindakan untuk melukis atau merenungkan lukisan memungkinkan untuk menemukan kesatuan dengan kosmos. Karena itu, lebih dari sebuah karya estetika sederhana : itu adalah seni hidup. Sajak dari napas dan gerakan hidup adalah , dalam pikiran saya , ekspresi yang sangat baik untuk menangkap makna dari lukisan Cina.

Format yang digunakan dalam lukisan Cina sangat bervariasi. Paling dikenal adalah roller besar , format horisontal , jangkauan, dll.

Subyek dapat masyarakat , pemandangan, bunga dan burung , mamalia , serangga dan ikan , arsitektur , dll. Sumber inspirasi dengan demikian secara langsung di alam , tetapi juga dalam lukisan mantan Masters.

Pemandangan , karakter dan bunga-bunga dan burung adalah tiga topik yang disukai dari pelukis Cina. Ini menyiratkan sebuah studi menyeluruh tentang tanaman dan bunga sesuai dengan empat musim dan dari aspek burung , serangga , ikan dan mamalia.

Poin-poin penting dari komposisi lukisan Cina :

  1. Organisasi umum dan arah ( naik , turun , didukung , dll ).
  2. Kepadatan dan pertemuan itu ( atau dispersi ). Para pelukis tua , untuk memberikan indikasi kepadatan lukisan , menggunakan ungkapan ini : Spasi bahwa bahkan kuda bisa menyeberang , padat sehingga bahkan angin tidak bisa menyusup.
  3. vakum. Dalam lukisan tradisional Cina , vakum memiliki tempat yang sangat penting. Hal ini dapat mewakili langit , tanah , air , awan , dll. Hal ini memungkinkan untuk memberikan gambar dalam lukisan tetapi juga untuk proyek penonton di dunia yang jauh lebih luas , bahkan tak terbatas , dengan meninggalkan tanah gratis untuk imajinasi. Kontemplasi mengambil dukungan pada bagian penuh dari lukisan itu seperti batu loncatan yang akan didorong dalam absolut melalui bagian yang kosong. Puisi Cina didasarkan pada prinsip yang sama.
  4. Jauh lebih penting adalah prasasti. Mereka termasuk judul , isi ( puisi , prosa , deskripsi , sejarah, dll ) , nama penulis dan segel nya. Semua harus kaligrafi dalam gaya yang berbeda sesuai dengan apa artis ingin mengekspresikan. Kehidupan lukisan itu tergantung dari pilihan prasasti dan posisi mereka. Ini adalah mereka yang bekerja lengkap. Tanpa mereka , lukisan hanya satu tubuh tanpa kehidupan.

sumber:http://www.chine-culture.com & beberapa sumber lain

Kue Bulan

Kue bulan (Hanzi: 月餅, pinyin: yuèbǐng) adalah penganan tradisional Masyarakat Tionghoa yang menjadi sajian wajib pada perayaan Festival Musim Gugur setiap tahunnya. Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal dalam Bahasa Hokkian-nya, gwee pia atau tiong chiu pia. Sedangkan dalam bahasa Hakka / Khek- nya, yaitu ” Nyekh Ppyang ” .

Kue bulan tradisional pada dasarnya berbentuk bulat, melambangkan kebulatan dan keutuhan. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya muncul menambah variasi dalam komersialisasi kue bulan.

Asal usul

Kue bulan bermula dari penganan sesajian pada persembahan dan penghormatan pada leluhur di musim gugur, yang biasanya merupakan masa panen yang dianggap penting dalam kebudayaan Tionghoa yang berbasis agrikultural.

Perkembangan zaman menjadikan kue bulan berevolusi dari sesajian khusus pertengahan musim gugur kepada penganan dan hadiah namun tetap terkait pada perayaan festival musim gugur tadi.

Beberapa legenda mengemukakan bahwa kue bulan berasal dari Dinasti Ming, yang dikaitkan dengan pemberontakan heroik Zhu Yuanzhang memimpin para petani Han melawan pemerintah Mongol. Namun sebenarnya, kue bulan telah ada tercatat dalam sejarah paling awal pada zaman Dinasti Song. Dari sini, kue bulan dipastikan telah populer dan eksis jauh sebelum Dinasti Ming berdiri.

  • menurut cara pembuatan: Guangdong, Beijing, Taiwan, Hongkong, Chaozhou.
  • menurut rasa: manis, asin, pedas
  • menurut isi: kuning telur, tausa (kacang merah), buah-buahan, kacang hijau, es krim
  • menurut bahan kulit: tepung gandum, gula dan es

Pembuatan kue bulan di Indonesia pada dasarnya berasal dari gaya pembuatan Guangdong dan Chaozhou. 

http://www.youtube.com/watch?v=T01yxgM2wS8

dari beberapa sumber

 

Vihara Shaolin

 

Vihara Shaolin atau Kuil Shaolin (Tionghoa: 少林寺 ; Pinyin: Shàolín Sì ) ada alah vihara Buddhist Zen yang berada di Gunung Song dekat Kota Zengzhou, provinsi Henan. Vihara ini dipimpin oleh Yang Mulia bhikku Shi Yǒngxìn dan bhikku bela diri Shi De Li. Didirikan pada abad ke-5, vihara ini sudah lama terkenal akan hubungannya dengan Seni bela diri Tiongkok dan terlebih dengan Shaolin Kung Fu, dan juga merupakan vihara Buddhist Mahayana yang terkenal di dunia barat. Vihara Shaolin dan Hutan Pagodanya yang terkenal termasuk ke dalam Situs Warisan Dunia pada tahun 2010 sebagai bagian dari Monumen bersejarah di Dengfeng.”

Kata shào () pada “Shaolin” merujuk kepada “Gunung Shao shi”, sebuah gunung di Pegunungan Songshan dan lín () berarti “hutan”. Bersama dengan (), kata tersebut secara literal berarti “vihara di hutan Gunung Shaoshi”.

Hal lain, kata “Shaolin” yang diterjemahkan oleh guru Chang Dsu Yao sebagai “hutan muda (baru) atau terkadang diterjemahkan sebagai “hutan kecil”.

Kepala biara Vihara Shaolin yang pertama adalah Batuo, yang juga disebut Fotuo atau Buddhabhadra, seorang guru dhyana dari India yang datang ke Tiongkok pada tahun 464 masehi guna menyebarkan ajaran Buddhist.

Menurut buku Continued Biographies of Eminent Monks (645 M) oleh Dàoxuān, Vihara Shaolin dibangun di sebelah utara Shaoshi, puncak sebelah barat Gunung Song, satu dari empat Pegunungan Sakti di Tiongkok, oleh Kaisar Xiaowen dari Dinasti Wei Utara pada tahun 477 M. Menurut Yang Xuanzhi, dalam Record of Buddhist Monasteries of Luoyang (547 M), dan Li Xian, dalam Ming Yitongzhi (1461 M), berdebat dengan lokasi dan penempatan Daoxuan. Jiaqing Chongxiu Yitongshi (1843 M) menjelaskan bahwa viahara ini, berada di provinsi Henan, dibangun pada tahun ke-20 pada era Dinasti Wei Utara, yang berarti vihara ini dibangun pada tahun 497 M.

Kangxi, kaisar Qing kedua, adalah penyokong keberadaan vihara Shaolin di Henan dan ia menuliskan kaligrafi yang terpampang di Heavenly King Hall dan Buddha Hall hingga hari ini.

Feng Shui, ilmu topografi kuno

Feng shui (Mandarin: 風水) adalah ilmu topografi kuno dari Tiongkok (China) yang mempercayai bagaimana manusia dan surga (astronomi), serta bumi (geografi) dapat hidup dalam harmoni untuk membantu memperbaiki kehidupan dengan menerima Qi positif. Qi terdapat di alam sebagai energi yang tidak terlihat. Qi dialirkan oleh angin dan berhenti ketika bertemu dengan air.

Qi baik, disebut juga dengan istilah napas kosmik naga. Jenis Qi ini dipercaya sebagai pembawa rejeki dan nasib baik. Namun, ada pula Qi buruk yang disebut Sha Qi, yang dipercaya sebagai pembawa nasib buruk.

Terdapat berbagai aliran feng shui, di antaranya yaitu bintang terbang, waktu, dan topografi.

Lima Elemen Feng Shui  terdiri dari:

  1. Elemen Kayu : Elemen kayu mewakili pertumbuhan dan kreativitas. Kayu mendorong pertumbuhan pribadi dan intuisi meningkat.
  2. Elemen Tanah : Elemen Tanah membantu untuk tumbuh dan menstabilkan. Dari semua unsur feng shui, Elemen Tanah adalah elemen yang paling damai, menenangkan, dan stabil. Percantik rumah Anda dengan elemen ini jika Anda mencari landasan, memperkuat, atau memelihara.
  3. Elemen Logam : Elemen Logam berhubungan dengan kekuatan mental dan ketajaman. Elemen Logam mempengaruhi kecerdasan.
  4. Elemen Api : Elemen Api merupakan transformasi dan ekspansi. Elemen Api adalah elemen yang paling stabil dari semua lima unsur feng shui.
  5. Elemen Air : Elemen Air sangat berguna sebagai perilis dan pembaharuan. Gunakan elemen ini untuk kejelasan, relaksasi, inspirasi dan untuk menghadirkan kerelaan.

Feng shui sering digunakan sebagai salah satu patokan dalam proses pembangunan rumah. Tujuannya adalah untuk memastikan rumah tersebut dibangun dengan Qi yang baik. Adapun faktor-faktor yang paling mempengaruhi yaitu lokasi dan sumbu waktu.

Qi (气) (dibaca “chi” dalam bahasa indonesia) adalah sebuah kekuatan alam yang bersifat positif dan negatif dan memerankan peran penting atas kualitas feng shui suatu tempat. Menurut feng shui, Qi mengacu pada energi dan kekuatan yang hidup. Sedangkan menurut penjelasan feng shui tradisional, Qi mencakup orientasi struktur, usia, dan lingkungan, termasuk kemiringan, vegetasi, dan kualitas tanah.

sumber : dari beberapa sumber