Pasar Ikan Tsukiji

Hasil gambar untuk pasar tsukiji jepang

Pasar Tsukiji (築地市場 Tsukiji shijō) atau populer sebagai pasar ikan Tsukiji adalah pasar induk yang berada di Tsukiji, distrik kota Chūō, Tokyo. Pasar ini merupakan pusat grosir hasil laut dan hasil pertanian. Buka setiap pagi, kecuali hari Minggu, hari libur, dan hari libur pasar di Jepang (biasanya Rabu).

Pasar Tsukiji mulai beroperasi secara resmi pada 2 Februari 1935, dan merupakan pasar yang tertua di antara 11 Pasar Pusat Grosir Metropolitan Tokyo. Setiap harinya dilelang hasil laut sebanyak 2.080 ton dan sayuran/buah sebanyak 1.180 ton, dan membuatnya sebagai pasar ikan terbesar di Jepang.

Kawasan sekitar Pasar Tsukiji disebut Pusat Perbelanjaan Luar Pasar Tsukiji (築地場外市場商店街 Tsukiji jōgai shijō shōtengai) atau populer sebagai jōgai shijō (pasar bagian luar). Selain ramai dengan toko hasil laut, di pusat perbelanjaan terdapat banyak rumah makan, terutama sushi, dan toko eceran berbagai jenis barang. Kawasan bagian luar pasar adalah objek wisata yang ramai dengan wisatawan.

Kegiatan Lelang

Peningkatan dalam jumlah kunjungan wisatawan (terutama wisatawan mancanegara) menyebabkan masalah sanitasi di Tsukiji. Pihak pasar mendapat kesulitan dalam mengatur suhu ruang akibat keluar masuknya banyak orang. Wisatawan juga sering mengganggu kegiatan lelang dan transaksi di pasar, terutama lelang tuna di pagi hari. Berdasarkan alasan tersebut, wisatawan tidak lagi diizinkan untuk memasuki tempat pelelangan tuna.

Hasil gambar untuk pasar tsukiji jepang

Hasil tangkapan dari seluruh dunia tiba di Pasar Tsukiji mulai pukul 17.00 petang hari sebelumnya. Ikan tuna mulai dipamerkan kepada pialang peserta lelang yang memeriksa kualitas barang dan menaksir harga sejak pukul 03.00 dini hari. Lelang ikan tuna dimulai pukul 05.30 yang diikuti pialang dan pembeli terdaftar. Pukul 07.00 pagi, pialang mulai membawa hasil tangkapan dari tempat lelang ke toko masing-masing di kompleks pasar. Barang-barang yang dibeli dari lelang atau dari pialang mulai dimuat ke dalam truk oleh pedagang pengecer untuk dibawa ke pasar atau toko masing-masing di kota. Antara pukul 08.00 hingga pukul 10.00, pasar sangat ramai dengan orang dan truk yang keluar masuk. Pada pukul 11.00, toko milik pialang mulai tutup, dan petugas kebersihan mulai menjalankan tugasnya mulai pukul 13.00.

Sejarah Pasar

Hasil gambar untuk tsukiji fish market 1935

Pasar Tsukiji bermula dari pasar ikan dekat jembatan Nihonbashi yang melayani kebutuhan penduduk Tokyo sejak zaman Edo. Ketika terjadi gempa bumi besar Kanto September 1923, semua pasar ikan dan pasar basah di Tokyo habis terbakar. Dewan kota memutuskan untuk mendirikan pasar grosir di Tokyo. Salah satunya adalah Pasar Tsukiji. Pemerintah kota membeli lahan tanah negara (bekas lokasi Akademi Angkatan Laut, Pusat Riset Teknologi Angkatan Laut) untuk dijadikan lokasi pasar. Setelah membeli bagian laut yang boleh diuruk, pembangunan pasar dimulai dari menguruk laut selama 3 tahun 3 bulan sejak Maret 1928. Dari total luas lahan 196.729 m², 16.631,4 m² adalah lahan hasil pengurukan. Pembangunan gedung dan fasilitas penunjang berlangsung dari Desember 1930 hingga April 1933, mulai dari lemari es, pabrik es, tempat lelang, ruang penyimpanan pisang, hingga ekspansi jalur kereta api sepanjang 2,710 meter dari Stasiun Kargo Shiodome. Pembangunan semua fasilitas penunjang selesai bulan Agustus 1934.

Pedagang yang mulai berjualan di Pasar Tsukiji sejak tahun 1934 adalah pedagang asal pasar ikan air tawar Nihonbashi, dan pedagang ayam/telur. Pedagang sayuran dan buah mulai berjualan sejak Februari 1935, pedagang ikan laut sejak Juni dan November 1935, diikuti pedagang grosir, pedagang sayuran/buah, pedagang tsukemono, dan pedagang lainnya.

Pada tahun 1937, terjadi Perang Tiongkok-Jepang Kedua, pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi terpusat yang menghapus sistem pialang. Setiap keluarga diberi jatah kupon pangan untuk ditukar makanan, dan jumlah barang dagangan yang masuk ke pasar amat sedikit.

Setelah Perang Dunia II berakhir, pemerintah kembali membebaskan kegiatan perdagangan. Barang-barang yang diperdagangkan di pasar semakin banyak. Pedagang grosir semakin banyak sehingga timbul persaingan tidak sehat. Pada tahun 1955, sembilan belas pedagang grosir hasil laut dipaksa untuk merger menjadi 7 pedagang grosir yang ada hingga sekarang. Pedagang grosir sayuran dan buah atas inisiatif sendiri merger menjadi 4 pedagang grosir.

 
Plakat peringatan Daigo Fukuryu Maru

Pada tahun 1954, kapal penangkap ikan Daigo Fukuryū Maru sedang berada di luar daerah bahaya ketika Amerika Serikat mengadakan eksperimen desain Teller-Ulam (Operasi Castle Bravo) di atol Bikini. Setelah kembali ke Jepang, ikan tuna dan cucut selendang yang ditangkap kapal Daigo Fukuryū Maru dilelang di Pasar Tsukiji pada 13 Maret. Hasil tangkapan tersebut ternyata terkontaminasi radioaktif. Lelang dihentikan, dan hasil tangkapan nelayan lain ikut tidak bisa dijual. Hasil tangkapan dikubur di dalam kompleks pasar. Di atasnya didirikan monumen peringatan “tuna bom atom”. Sehubungan dengan pekerjaan proyek renovasi pasar yang berlangsung sejak 2006, monumen dipindahkan sementara ke Gedung Pameran Daigo Fukuryu Maru di Yumenoshima, Tokyo. Sebagai penggantinya, di bagian luar dinding pasar ditempel plakat peringatan Daigo Fukuryu Maru.

Ryokan, penginapan tradisional di Jepang

Image result for Ryokan

Ryokan (旅館) adalah penginapan dengan fasilitas dan bangunan berarsitekturJepang. Penginapan jenis ini menyediakan kamar bergaya Jepang yang berlantaikan tatami.

Ada beberapa jenis ryokan berdasarkan daya tarik yang ingin dijual: ryokan di daerah wisata, ryokan onsen, ryokan yang menyediakan santapan istimewa, ryokan kelas ekonomi, dan ryokan untuk kelompok murid sekolah yang studi wisata. Bila bangunan penginapan menyerupai rumah tinggal, atau penghasilan utama berasal dari bidang usaha lain, maka pengelola penginapan sering menyebutnya minshuku. Walaupun demikian, pembedaan jenis penginapan menjadi ryokan, minshuku,hotel, atau pension, tidak lain merupakan strategi pengelola agar tamu mau datang menginap.

Ciri khas penghinapan

Pemandian air panas

Image result for onsen ryokan

Di ryokan yang memiliki onsen (onsen ryokan), tamu yang menginap disediakan tempat pemandian (ofuro) bersama untuk mandi berendam air panas. Pemandian air panas disediakan terpisah untuk pria dan wanita, dan waktu penggunaannya untuk mandi diatur oleh pihak ryokan.

Makan malam dan makan pagi

Image result for RyokanTarif penginapan biasanya sudah termasuk biaya makan malam dan makan pagiala Jepang (tarif satu malam ditambah dua kali makan). Walaupun demikian, ada pula ryokan yang menawarkan paket bermalam tanpa makan atau paket bermalam hanya dengan makan pagi, terutama di ryokan kelas ekonomi.

Hidangan makan malam di ryokan berupa kaiseki yang menampilkan masakan daerah dari bahan makanan yang sedang musim dan produk unggulan daerah. Ryokan yang berada di dekat laut menghidangkan makanan laut, sementara ryokan yang berada di pegunungan menghidangkan hidangan dari sayuran pegunungan atau ternak produk lokal.

Pakaian tidur 

Pengelola ryokan menyediakan yukata untuk dipakai tamu sebagai pakaian tidur atau ketika makan di ruang makan bersama. Di ryokan yang memiliki onsen, yukata juga dipakai ketika pergi ke pemandian air panas. Di onsen ryokan, tamu yang sedang menginap bisa berjalan-jalan di luar atau pergi ke onsen di tempat lain yang berdekatan dengan mengenakan yukata.

Pada zaman dulu, onsen ryokan sering tidak memiliki pemandian sendiri. Disediakannya yukata sebagai pakaian sebelum/sesudah mandi memudahkan tamu ketika pergi ke onsen langit terbuka yang digunakan bersama tamu dari ryokan lain. Pengelola ryokan juga meminjamkan alas kaki geta untuk berjalan-jalan di luar atau payung tradisional Jepang ketika turun hujan.

Ruang makan bersama

Di sebagian ryokan, makan malam dan makan pagi dihidangkan di ruang makan bersama (ruang pesta) pada jam makan yang diumumkan sebelumnya. Di ruang makan bersama sering dilangsungkan pertunjukan untuk tamu atau karaoke. Sebagian ryokan juga memiliki ruangan untuk bermain tenis meja.

Sebuah meja terdapat di tengah-tengah ruang kamar tidur tamu. Di atas meja ini tamu dapat membuat teh. Hidangan makan malam dan sarapan dihidangkan di atas meja tersebut, kecuali bila hidangan makan disajikan di ruang makan bersama.

Pelayanan tamu

Image result for RyokanRyokan memberikan pelayanan tamu dengan sangat mendetail. Pelayanan terhadap tamu merupakan tanggung jawab manajer wanita ryokan yang disebut okami (女将). Wanita yang menjadi okami umumnya adalah istri pemilik ryokan atau wanita pemilik ryokan. Di ryokan mewah atau ryokan yang menekankan tradisi, pelayanan tamu dilakukan oleh pegawai wanita yang disebut nakai (仲居). Staf ryokan mengenakan pakaian tradisional Jepang, termasuk kimono yang dikenakanokami dan nakai.

Tamu yang menginap tidur di atas futon yang digelar setelah tamu selesai makan malam. Ketika tamu sedang tidak berada di kamar, nakai menyiapkan futon untuk tamu beristirahat. Keesokan paginya, wanita pegawai ryokan akan menggulung dan menyimpan kembali futon ketika tamu sedang makan pagi. (sumber: dari beberapa sumber)

Syahdunya suara Shamisen

Image result for shamisen

Shamisen atau samisen (三味線) adalah alat musik dawai asal Jepang yang memiliki tiga senar, dan dipetik menggunakan sejenis pick yang disebut bachi.

Di dunia musik Jepang abad modern (kinsei hōgaku) seperti genre jiuta dansōkyoku (sankyoku), shamisen dikenal sebagai san-gen (三弦, 三絃, tiga senar), sedangkan di daerah Okinawa dikenal dengan sebutan sanshin (三線).

Badan shamisen (disebut ) dibuat dari kayu, berbentuk segi empat dengan ke empat sudut yang sedikit melengkung. Bagian depan dan belakang dilapisi kulit hewan yang berfungsi memperkeras suara senar. Kulit pelapis shamisen adalah kulit bagian perut kucing betina yang belum pernah kawin. Sedangkan shamisen kualitas biasa dibuat dari kulit bagian punggung dari anjing. Shamisen yang dibuat kulit imitasi memiliki kualitas suara yang tidak bagus sehingga kurang populer.

Bentuk Shamisen

Image result for shamisen

Panjang shamisen hampir sama dengan gitar tapi leher (sao) lebih langsing dan tanpa fret. Leher shamisen ada yang terdiri dari 3 bagian agar mudah dibawa-bawa dan disimpan. Leher shamisen yang utuh dan tidak bisa dilepas-lepas disebut leher nobezao.

Sutra merupakan bahan baku senar untuk shamisen. Tsugaru-jamisen yang berasal dari daerah Tsugaru ada yang memakai senar dari serat nilon atau tetoron. Senar secara berurutan dari kiri ke kanan (dari senar yang paling tebal) disebut sebagai ichi no ito (senar pertama), ni no ito (senar kedua), dan san no ito (senar ketiga).

Jenis Shamisen

Image result for kind of shamisenShamisen terdiri dari 3 jenis berdasarkan ukuran leher: Hosozao (leher sempit), Nakazao (leher sedang), dan Futozao (leher besar). Selain itu, jenis shamisen dikelompokkan berdasarkan nama kesenian:

  • Nagauta shamisen, berleher langsing, dipetik dengan pick besar dari gading gajah, dan dipakai pada pertunjukan kabuki
  • Gidayū shamisen, berleher besar dan tebal, dan digunakan sebagai pengiring jōruri
  • Tokiwazu-bushi shamisen, berleher sedang
  • Kiyomoto shamisen, berleher sedang.
  • Jiuta shamisen, berleher sedang, dipetik dengan pick yang disebut Tsuyamabachi dari bahan gading gajah. Shamisen jenis ini sering disebut sankyoku, dimainkan bersama koto, kokyū, dan shakuhachi.
  • Shinnai shamisen, berleher sedang, dipetik dengan menggunakan kuku jari.
  • Yanagawa shamisen (Kyō-shamisen), berleher lebih langsing dari Hosozao, merupakan model shamisen yang paling tua
  • Tsugaru-jamisen, berleher lebar dan tebal, digunakan untuk lagu daerah yang disebut Tsugaru-minyō, dan dipetik menggunakan bachi yang berukuran lebih kecil dan dibuat dari tempurung kura-kura.
  • Sanshin asal Kepulauan Ryūkyū, digunakan di prefektur Okinawa dan bagian paling ujung prefektur Kagoshima. Shanshin dibuat dari kulit ular sanca asal Indonesia, leher shamisen dipernis dengan urushi, serta dipetik tidak memakai bachi, melainkan dengan pick dari tanduk kerbau.
  • Gottan, asal Prefektur Kagoshima, dibuat seluruhnya dari kayu dan tidak memakai kulit hewan.

Sejarah Shamisen

Dalam penggolongan alat musik, shamisen termasuk alat musik petik serupa lute dengan leher (neck) yang disambung ke badan. Di seluruh dunia terdapat banyak sekali berjenis-jenis alat musik serupa lute, mulai dari gitar, sitar, hingga ukulele. Kebudayaan Mesir kuno mengenal alat petik bersenar tiga yang di Persia berkembang menjadi setaru atau sitar (“san” berarti “tiga” dan “taru” berarti “senar”). Di Tiongkok, alat musik serupa sitar yang dibuat dengan pelapis kulit ular disebut sanshen (sanxian). Perdagangan antara Kerajaan Ryūkyū dan Fuzhou memperkenalkan alat musik sanshen yang kemudian di Okinawa disebut sanshin.

Di akhir abad ke-16, sanshin yang dibawa kapal dagang asal Ryūkyū diperkenalkan ke penduduk kota Sakai. Shamisen tertua yang masih ada sekarang adalah shamisen bernama Yodo hasil karya pengrajin di Kyoto. Shamisen ini khusus dibuat atas perintah Toyotomi Hideyoshi untuk dihadiahkan kepada sang istri Yodo-dono. Shamisen Yodo mempunyai bentuk yang tidak jauh berbeda dengan shamisen yang ada sekarang.

Perkembangan sanshin asal luar negeri menjadi shamisen tidak lepas dari peran pemusik tunanetra asal perkumpulan tunanetra Tōdōza. Sanshin yang dimainkan dengan pick berbentuk kuku dari tanduk kerbau berkembang menjadi shamisen yang dipetik dengan bachi yang digunakan untuk memetik alat musik biwa. Bunyi shamisen yang lebih garing ternyata lebih disenangi orang dibandingkan bunyi biwa yang terkesan berat dan serius.

Salah satu pemusik tunanetra bernama Ishimura Kengyō berjasa mengembangkan teknik permainan hingga shamisen digemari rakyat banyak. Di awal zaman Edo, Ishimura Kengyō mempelopori genre musik yang menggunakan shamisen dan dikenal sebagai Jiuta. Secara garis besar musik shamisen dibagi menjadi dua jenis, Utaimono (pengiring lagu) danKatarimono (pengiring cerita).

sumber: dari beberapa sumber

Matcha, si teh hijau

Hasil gambar untuk matcha

Matcha (抹茶, teh bubuk) adalah teh hijau berbentuk bubuk yang dibuat dari menggiling teh hijau hingga halus seperti tepung. Selain diminum pada upacara minum teh, matcha digunakan sebagai bahan perisa dan pewarna untuk berbagai jenis makanan, seperti mochi, soba, es krim, es serut, cokelat, berbagai jenis kue Barat, dan wagashi.

Upacara minum teh mengenal dua jenis minuman teh dari matcha, koicha (teh kental) dan usucha (o-usu atau teh encer). Keduanya berbeda dalam kadar kekentalan, dan cara meminum. Teh jenis koicha dan usucha keduanya disajikan dalam upacara minum teh yang sangat formal. Walaupun demikian, upacara minum teh yang hanya menyajikan usucha tetap bisa bersifat formal.

Matcha kualitas terbaik memiliki rasa lebih manis dan tidak terlalu pahit. Minuman koicha hanya dibuat dari matcha kualitas terbaik yang harganya mahal, tapi matcha tersebut bisa juga dipakai untuk membuat usucha. Alat pengocok yang disebut chasen digunakan untuk melarutkan matcha, atau mengocoknya hingga berbusa sewaktu membuat usucha.

Hasil gambar untuk how to make matcha green tea

Semangkuk koicha dibuat untuk diminum bersama oleh tamu yang hadir secara bergiliran. Seorang tamu hanya boleh meminum teh yang menjadi bagiannya, dan menyisakan selebihnya untuk tamu yang lain. Tamu yang mendapat giliran terakhir untuk minum diharuskan menghabiskan teh yang tersisa di dalam mangkuk.

Sewaktu membuat koicha, takaran matcha adalah 3 chashaku (sendok kecil dari bambu) untuk satu orang. Bila ada 4 orang tamu, maka takaran matcha untuk semangkuk koicha adalah 12 chashaku. Kue tradisional Jepang (wagashi) yang disajikan bersama koicha adalah kue namagashi (“kue basah”) seperti nerikiri.

Semangkuk usucha dibuat untuk diminum habis oleh seorang tamu. Takaran matcha yang digunakan adalah 1½ chashaku untuk satu mangkuk. Usucha dihidangkan pada upacara minum teh yang dihadiri oleh banyak tamu, atau upacara minum teh ala kuil Zen. Wagashi yang dihidangkan bersama usucha adalah kue higashi (kue yang lebih kering dari namagashi). Pada upacara minum teh yang hanya menyajikan usucha dan tidak menyajikan koicha, kue yang dihidangkan bisa saja berupa higashi atau namagashi.

Masing-masing aliran upacara minum teh memiliki standar kadar busa pada permukaan teh. Aliran Urasenke menetapkan seluruh permukaan teh dipenuhi busa bagaikan susu kocok. Sebaliknya, aliran Omotesenke menetapkan sebagian permukaan teh harus terlihat bebas dari busa. Aliran Mushanokōjisenke bahkan hanya membolehkan sangat sedikit busa pada permukaan teh.

Sejarah

Kebiasaan minum teh dimulai di Tiongkok pada zaman Dinasti Tang, namun baru menjadi populer pada zaman Dinasti Song. Khasiat dan cara membuat teh dicatat dalam kitab Cha Ching sekitar abad ke-8.

Pada zaman Heian, orang Jepang hanya mengenal Dancha (teh dalam bentuk bulatan seperti bola). Matcha diperkirakan pertama kali dibuat di Tiongkok pada abad ke-10. Orang Jepang mengenal matcha sejak abad ke-12 (zaman Kamakura) setelah matcha dibawa ke Jepang oleh pendeta Zen aliran Rinzai bernama Eisai.

Matcha dibuat dari teh hijau yang disebut Tencha. Di perkebunan, tanaman ditutup dengan jerami atau kerai agar daun teh tidak terkena sinar matahari langsung (sama dengan cara pembuatan teh hijau Gyokuro). Setelah dipetik, daun teh langsung dikukus dan dikeringkan. Teh untuk matcha tidak diremas-remas seperti sewaktu membuat teh hijau jenis Sencha atau Gyokuro. Alat penggiling dari batu digunakan untuk menggiling daun teh yang sudah kering hingga halus menjadi tepung. (sumber: dari beberapa sumber)

Besepeda di Jepang Kring..kring..kring

Jepang merupakan satu dari 10 (sepuluh) negara pengguna sepeda terbanyak dari seluruh dunia menurut berbagai survei website. Mungkin karena di Jepang sudah didukung ketersediaan jalur sendiri-sendiri, seperti jalur untuk berjalan, bersepeda, dan bermobil.

Hasil gambar untuk jalur sepeda di Jepang

Tak hanya orang Jepang yang menggunakan sepeda untuk alat transportasinya, moda transportasi ini juga digunakan oleh banyak orang asing penggemar aktivitas bersepeda, di Jepang. Saat ini bersepeda sedang menjadi tren. Seperti lazim diketahui, dengan bersepeda, manfaat yang diperoleh adalah terbakarnya lemak serta turut menyelamatkan bumi dari polusi.Kami akan menjelaskan mengenai tata tertib dan hukum dalam menggunakan sepeda di Jepang.

Peraturan Bersepeda di Jepang

  • Kamu akan dikenakan denda 50.000 yen atau dipenjara selama kurang lebih 3 bulan jika menggunakan payung atau menggunakan telepon genggam saat bersepeda (kamu sering melihat hal ini bukan? Apalagi berpayung di saat hujan).
  • Bersepeda di malam hari tanpa helm berlampu juga akan dikenakan denda sebesar 50.000 yen.
  • Kamu harus berhenti di tanda STOP atau denda 50.000 yen dan kurungan 3 (tiga) bulan.
  • Bersepeda secara membahayakan, tidak berhenti di lampu merah, atau rem sepeda tidak berfungsi akan dikenakan denda maksimal 500.000 yen dan / atau 3 (tiga) bulan penjara.
  • Bersepeda dalam keadaan mabuk dilarang dan akan dikenakan hukuman maksimal 5 (lima) tahun penjara dan denda 1.000.000 yen.
  • Selain itu, memarkir sepeda juga harus dipahami, salah parkir pertama kali mungkin hanya mendapat peringatan petugas polisi, tapi jika terjadi lagi dan lagi, sepeda kamu akan disita petugas yang membuat kamu mengira sepeda kamu dicuri. Tetaplah bersikap tenang dan pertama-tama coba kamu cek apakah parkir di tempat terlarang atau tidak, kemudian cek sekitar tempat itu apakah ada tanda dilarang masuk? Jika ada, biasanya terdapat informasi kapan bisa mengambil kembali sepedamu dan berapa denda yang harus kamu bayar, yang berbeda di setiap distriknya, namun rata-rata besarnya 3.000 – 6.000 yen per sepeda (mungkin dendanya akan lebih mahal dari sepeda itu sendiri)

Sebenarnya masih banyak tata tertib yang harus dipatuhi seperti larangan bersepeda sambil mendengarkan iPod untuk keselamatan kamu dan tidak diperbolehkan membawa penumpang. Denda unutk pelanggaran menggunakan sepeda di Jepang sangatlah tinggi, mungkin perlu adanya tes agar kita mendapatkan Surat Ijin Bersepeda di kemudian hari.

Hasil gambar untuk parkir sepeda di Jepang

Petugas akan memasang tanda dilarang parkir untuk sepeda dan mencatat nomor izin sepeda, lihatlah bagian sisi dekat jalan akan ada peta berikut informasi untuk mengambil kembali sepeda dan tentu saja dendanya harus dibayar dan tidak bisa ditawar lagi.

Hasil gambar untuk bike rules in japan

http://www.youtube.com/watch?v=w43PPdM3sAI

 

 

 

Akihito, Putra Mahkota Takhta Bunga Seruni

Akihito (明仁), (lahir 23 Desember 1933; umur 82 tahun), adalah kaisar Jepang ke-125, yang bertakhta sejak tahun 1989, menggantikan ayahnya. Kaisar Hirohito, yang meninggal dunia.

Akihito merupakan putra pertama dan anak kelima (dari tujuh bersaudara) Kaisar Showa (Hirohito) dan Maharani Kojun (Nagako). Bergelar Tsugu no miya (継宮; Pangeran Tsugu) semasa kanak-kanak, ia dibesarkan dan diajar oleh guru privat dan kemudian belajar di Sekolah Dasar Anak Laki-laki dan Sekolah Menengah ketika itu, Peers’ School (Gakushuin selepas 1947), 1940-52. Ia dipisahkan dari keluarganya pada usia tiga tahun.

Ketika kota Tokyo dibom oleh pihak Amerika pada Maret 1945, ia dan saudara mudanya, Pangeran Masahito (sekarang Pangeran Hitachi), dipindahkan dari Tokyo. Ketika masa pendudukan Amerika selepas Perang Dunia II, Pangeran Akihito belajar Inggris dengan Elizabeth Gray Vining guru wanita asal Amerika Serikat yang tugas utamanya adalah memperkenalkan dan mengajarkan asas-asas demokrasi kepada putra mahkota Jepang[1]. Pangeran Akihito kuliah sebentar di Jurusan Ilmu Politik di Universitas Gakushuin di Tokyo dan tidak menerima ijazah. Seperti ayahnya, ia menyukai biologi laut dan mempelajarinya sungguh-sungguh. Ia juga senang mendengarkan musik, klasik maupun jazz, dan sering bermain tenis dan bridge.

Walaupun ia merupakan putra mahkota Takhta Bunga Seruni dari 23 Desember 1933, pelantikan resmi sebagai Pangeran (Rittaishi no Rei) berlangsung pada 10 November 1951 di Istana Kaisar.

Pada Juni 1953, Pangeran Akihito mewakili Jepang sebagai utusan dalam upacara pelantikan Ratu Elizabeth II dari Britania Raya. Pada 10 April 1959, ia menikah dengan Michiko Shoda (lahir 20 Oktober 1934), anak perempuan Shoda Hidesaburo, presiden komisaris Industri Tepung Nisshin. Perkawinan tersebut menerobos tradisi karena Michiko Shoda bukan seorang keturunan bangsawan yang pertama yang menikah dengan keluarga kerajaan. Selepas itu, Pangeran Akihito dan Putri Michiko mengadakan kunjungan resmi ke 37 negara. Pangeran Akihito naik takhta setelah Kaisar Hirohito wafat pada 7 Januari 1989 dan secara resmi menjadi kaisar Jepang yang ke 125 pada 12 November 1990.

Semenjak naik takhta kekaisaran, Kaisar ini berusaha untuk mendekatkan keluarga Kaisar dengan masyarakat Jepang. Ia mengadakan kunjungan resmi ke 18 negara, termasuk ke 47 prefektur di Jepang. Kaisar Akihito dan Ratu Michiko dikaruniai tiga anak, yakni Pangeran Naruhito (lahir 23 Februari 1960), Pangeran Akishino (Fumihito, lahir 30 November 1965) dan Sayako Kuroda (dahulunya Sayako, Putri Nori, lahir 18 April 1969).

Pada 18 Februari 2012, Kaisar Akihito menjalani operasi bypass jantung di Rumah Sakit Unversitas Tokyo atau University of Tokyo Hospital pada pukul 09.24 waktu setempat. Ia harus menjalani operasi bypass jantung setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyempitan pembuluh darah koronernya. Selama operasi dan masa penyembuhan, putra sulung Akihito, Putra Mahkota Naruhito akan mengambil alih tugas-tugas resmi seperti menghadiri seremoni publik dan menemui tamu-tamu negara

sumber: dari beberapa sumber

Sang Kaisar Showa,Hirohito

Hirohito (裕仁), atau yang dikenal sebagai Kaisar Showa (昭和天皇, Shōwa-tennō) (lahir di Puri Aoyama, Tokyo, Jepang, 29 April 1901 – meninggal di Tempat Fukiage, Tokyo, 7 Januari 1989 pada umur 87 tahun) adalah kaisar Jepang yang ke-124. Dalam sejarah Jepang dia adalah Kaisar terlama yang memerintah (19261989) dan merupakan salah satu tokoh penting pada masa Perang Dunia II dan pembangunan kembali Jepang.

Hirohito dilahirkan di Puri Aoyama, Tokyo pada tanggal 29 April 1901. anak pertama dari Kaisar Yoshihito (Taisho) dan Ratu Sadako (Teimei), dan kakak dari Pangeran Yasuhito Chichibu (19031953), Pangeran Nobuhito Takamatsu (19051987) serta Pangeran Takahito Mikasa (1915– ). Sebelum naik takhta ia dikenal sebagai Pangeran Michi (迪宮, Michi-no-Miya). Masa kekuasaannya sebagai kaisar dikenal sebagai era Showa yang berarti damai, cerah budi. Namun ironisnya, justru pada saat itu, Jepang terlibat perang melawan RRT dan akhirnya dalam Perang Dunia II. Di Indonesia, ketika masa pendudukan Jepang (19421945) Hirohito dikenal sebagai Tenno Heika yang berarti “Yang Mulia Kaisar”.

Hirohito mengenyam pendidikan awal di Gakushuin Peer’s School dari April 1908 hingga April 1914, kemudian mendapatkan pendidikan khusus untuk putra mahkota (Togu-gogakumonsho) di Istana Akasaka dari tahun 1914 sampai Februari 1921. Mendapatkan karier sebagai letnan and sub-lieutnant (1st class) 9 Desember, 1912 pada Angkatan Darat Kekaisaran, kapten dan letnan (31 Oktober 1916, mayor dan wakil komandan (31 Oktober 1920 )letnan kolonel dan komandan (31 Oktober1923) dan kolonel dan komandan Angkatan Laut Kekasairan (Kaigun) (31 Oktober 1924). Ia diangkat menjadi putra mahkota secara resmi pada tanggal 16 November 1916. Pada tahun 1922 ia mengadakan kunjungan ke Inggris dan sejumlah negara negara Eropa. Kunjungan ini dianggap kelompok sayap kanan kontroversial sehingga menewaskan Perdana Menteri Hamaguchi.

Hirohito memiliki pengetahuan tentang penelitian biologi laut dan beberapa hasil penelitiannya dituangkan dalam sejumlah buku di antaranya The Opisthobranchia of Sagami Bay dan Some Hydrozoans of the Amakusa Islands.

Ia dinobatkan menjadi kaisar pada tanggal 25 Desember 1926 setelah ayahnya Kaisar Taisho meninggal, dilantik secara resmi 10 November, 1928, di Tokyo.

Pada masa ia bertakhta, Hirohito menyaksikan pertentangan di dalam negeri dan peperangan yang diawali dengan kericuhan di dalam negeri akibat pertentangan antara kelompok moderat dengan golongan kanan ultranasionalis yang disokong militer khususnya Angkatan Darat sebagai kekuatan terbesar pada saat itu. Akibatnya sejumlah pejabat tinggi, pengusaha dan tokoh-tokoh penting negara terbunuh dan puncaknya adalah insiden militer 26 Februari 1936, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Saburo Aizawa serta 1500 prajurit. Peristiwa ini juga melibatkan pangeran Yashuhito Chichibu sehingga Kaisar Hirohito sendiri turun tangan dan memerintahkan pasukan Angkatan Bersenjata kekaisaran untuk menyelesaikan hal ini dan memastikan loyalitas dari seluruh keluarga kekaisaran. Meskipun demikian diam-diam insiden ini “direstui” oleh kalangan pimpinan Angkatan Darat terutama dari kalangan ultranasionalis. Oleh karena itu pada tahun 1930, klik ultranasionalis dan militer menguasai pimpinan pemerintahan.

Akhirnya, pada masa kekaisaran Hirohito Jepang tercatat terlibat peperangan di antaranya Insiden Manchuria 1931, Insiden Nanking 1937, dan Perang Dunia II dengan melancarkan serangan atas Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour 9 Desember 1941.

Kaisar Hirohito meninggal pada tanggal 7 Januari 1989 akibat penyakit kanker usus dua belas jari (duodenum) yang dideritanya. Pemakaman kenegaraannya dihadiri oleh para pemimpin dunia di antaranya Presiden Amerika Serikat George Bush, Presiden Perancis Francois Mitterand, HRH Duke of Edinburgh dari Inggris, dan Raja HM Baudouin dari Belgia, pada tanggal 24 Februari 1989. Jenazahnya dimakamkan di Mausoleum Kekaisaran Musashino, di samping makam Kaisar Taisho. Kedudukannya digantikan oleh Putra Mahkota Akihito.

Kaisar Akihito

 

 

 

Ukiyo-e = teknik cukil kayu

Ukiyo-e (浮世絵) adalah sebutan untuk teknik cukil kayu yang berkembang di Jepang pada zaman Edo yang digunakan untuk menggandakan lukisan pemandangan, keadaan alam dan kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Dalam bahasa Jepang, “ukiyo” berarti “zaman sekarang,” sedangkan “e” berarti gambar atau lukisan.

Istilah ukiyo-e sekarang semata-mata digunakan untuk lukisan berwarna-warni (nishiki-e) yang dihasilkan teknik cukil kayu (woodprinting), tetapi sebenarnya pada zaman dulu istilah ukiyo-e juga digunakan untuk lukisan asli yang digambar dengan menggunakan kuas.

Sejarah

Pada awalnya, ukiyo-e adalah lukisan tentang “ukiyo” (keadaan zaman) seperti kehidupan sehari-hari, gaya busana, dan sebagainya.

Pelukis ukiyo-e dibagi menjadi dua aliran utama, yakni aliran Kanō dan aliran Tosa. Aliran Kanō sebenarnya sudah dimulai sejak zaman Muromachi, sedangkan aliran Tosa berakar pada aliran Kasuga yang sudah dimulai sejak zaman Heian. Pelukis yang diusir dari aliran Kanō kemudian banyak yang bergabung dengan aliran Tosa.

Periode awal

Periode awal ukiyo-e berlangsung sejak Kebakaran besar zaman Meireki sampai zaman Hōreki. Bentuk awal ukiyo-e adalah lukisan asli yang digambar dengan menggunakan kuas serta lukisan hasil reproduksi teknik cukil kayu dengan tinta satu warna (hitam).

Di pertengahan hingga akhir abad ke-17, seniman yang menggambar lukisan asli untuk teknik cukil kayu disebut Hanshita-eshi (版下絵師 pelukis sketsa?). Hishikawa Moronobu adalah salah satu pelukis sketsa terkenal zaman itu yang membuat buku bergambar dan ilustrasi untuk buku Ukiyo-zōshi. Salah satu karya Hishikawa Moronobu yang sangat terkenal berjudul Mikaeri Bijin-zu (見返り美人図, Wanita Cantik Menoleh ke Belakang).

Istilah “ukiyo-e” pertama kali disebut dalam buku Kōshoku Ichidai Otoko (terbitan tahun 1682) yang ditulis Ihara Saikaku. Di dalam cerita dikisahkan tentang kipas lipat bertulang dua belas yang berhiaskan ukiyo-e.

Ukiyo-e yang tadinya merupakan lukisan hitam-putih menjadi berwarna-warni berkat kreasi pelukis ukiyo-e asal Osaka bernama Torii Kiyonobu. Warna yang dipakai umumnya adalah tinta merah dalam berbagai nuansa. Lukisan yang menggunakan warna merah-oranye seperti warna bangunan Torii disebut Tan-e. Lukisan dengan tinta merah tua disebut Beni-e, sedangkan Beni-e dengan tambahan 2 atau 3 warna lain disebut Benizuri-e.

Periode pertengahan

 
“Edo no hana” wanita pemain Jōruri karya Kitagawa Utamaro

 
Lukisan potret Ichikawa Omezō karya Tōshūsai Sharaku

Periode pertengahan ditandai dengan kelahiran Nishiki-e sekitar tahun 2 zaman Meiwa hingga tahun 3 zaman Bunka.

Pada tahun 1765, kalender bergambar yang disebut E-goyomi populer di kalangan penyair haiku di Edo, sampai-sampai sempat diadakan pertemuan untuk tukar menukar kalender bergambar. Pelukis ukiyo-e Suzuki Harunobu mengantisipasi minat masyarakat dengan membuat ukiyo-e menggunakan tinta beraneka warna. Seni ukiyo-e mencapai zaman keemasan berkat teknik cetak warna ukiyoe secara full-color.

Percetakan multi warna dimungkinkan berkat ditemukannya cara membuat batas-batas (kento) pada objek lukisan yang memudahkan pewarnaan lukisan secara berulang kali dan tersedianya kertas washi berkualitas tinggi yang tahan melewati proses pewarnaan yang tumpang tindih. Ukiyo-e banyak menggunakan kertas washi bermerek dari provinsi Echizen dan Iyo yang menggunakan bahan baku dari tanaman perdu yang disebut Kōzo (Broussonetia kazinoki). Sesuai dengan perkembangan zaman, pembuatan ukiyo-e juga mulai melibatkan beberapa orang seniman dengan bidang yang sangat terspesialiasi, seperti pelukis yang hanya menggambar sketsa, seniman pencungkil kayu, dan seniman yang memberi warna pada lukisan.

Di zaman Anei, ukiyo-e yang menggambarkan wanita secara realistik (Bijinga) karya Kitao Shigemasa menjadi sangat populer. Katsukawa Shunshō menggambar lukisan potret aktor kabuki terkenal (Yakusha-e) hingga sangat mirip dengan aslinya.

Pelukis ukiyo-e bernama Kitagawa Utamaro melahirkan banyak sekali karya-karya berupa Bijinga dan Ōkubi-e (lukisan potret setengah badan aktor dan wanita cantik) yang terkenal sangat mendetil dan digambar dengan elegan.

Pada tahun 2 zaman Kansei pemerintah mengeluarkan peraturan tentang bahan cetak yang membatasi peredaran bahan-bahan cetak di kalangan masyarakat.

Pada tahun 7 zaman Kansei, setelah seluruh harta benda yang dimiliki disita pemerintah, penerbit ukiyo-e bernama Tsutaya Jūzaburō berusaha bangkit kembali. Tsutaya Jūzaburō mengumpulkan uang dengan cara menjual lukisan ukiyo-e karya Tōshūsai Sharaku. Lukisan karya Tōshūsai Sharaku menjadi sangat terkenal berkat pose aktor kabuki yang selalu digambar berlebih-lebihan walaupun lukisannya sendiri kurang laku. Kumpulan lukisan aktor kabuki karya Utagawa Toyokuni yang dikenal sebagai Yakusha Butai Sugata-e (役者舞台姿絵?, lukisan potret aktor di atas panggung) justru lebih laku. Murid-murid Utagawa Toyokuni kemudian mendirikan aliran Utagawa yang merupakan aliran terbesar dalam seni ukiyo-e.

Periode lanjut

 
Salju di Kambara, karya Hiroshige

Periode lanjut ukiyo-e menunjuk pada masa sekitar tahun 4 zaman Bunka hingga tahun 5 zaman Ansei. Setelah Kitagawa Utamaro tutup usia, lukisan wanita cantik (Bijinga) makin digambar secara lebih erotis seperti terlihat dalam karya-karya Keisai Eisen.

Murid Katsukawa Shunshō yang bernama Katsushika Hokusai membuat kumpulan lukisan yang dikenal sebagai 36 Pemandangan Gunung Fuji. Kumpulan lukisan Hokusai dibuat untuk mengikuti tren orang Jepang yang mulai senang bepergian di dalam negeri. Utagawa Hiroshige mengikuti kesuksesan Hokusai dengan kumpulan lukisan yang dikenal sebagai Tōkaidō gojūsan-tsugi (東海道五十三次 53 Pemberhentian di Tōkaidō?). Karya Hokusai dan Hiroshige dikenal sebagai genre Meisho-e (lukisan tempat terkenal) atau Fūkeiga (lukisan pemandangan).

Lukisan potret aktor kabuki yang tergolong dalam genre Yakusha-e tetap diteruskan Utagawa Kunisada yang merupakan murid Utagawa Toyokuni. Karya Utagawa Kunisada justru makin mempertegas ciri khas genre Yakusha-e berupa garis-garis keras dan dinamis yang dirintis sang guru.

Bersamaan dengan kepopuleran Kusazōshi (buku bergambar dengan cerita memakai aksara hiragana) lahir karya-karya ukiyo-e genre Musha-e yang menggambarkan tokoh-tokoh samurai, seperti terlihat dalam lukisan karya Utagawa Kuniyoshi. Ilustrasi tokoh-tokoh kisah Batas Air yang digambar Utagawa Kuniyoshi menjadi sangat populer, bahkan sampai membuat orang Jepang keranjingan cerita Batas Air.

Periode akhir

 
Pegulat sumo Onogawa Kisaburo, karya Tsukioka Yoshitoshi

Periode akhir ukiyo-e menunjuk pada masa sekitar tahun 6 zaman Ansei sampai tahun 45 zaman Meiji.

Lukisan ukiyo-e yang populer pada masa ini adalah genre lukisan orang asing yang disebut Yokohama-e, karena orang Jepang menaruh minat pada budaya asing yang dibawa oleh Kapal Hitam.

Akibat kekacauan yang ditimbulkan Restorasi Meiji, lukisan ukiyo-e mulai banyak yang mengetengahkan tema-tema lukisan kabuki yang mengumbar brutalisme dan lukisan makhluk “aneh tapi nyata.” Tsukioka Yoshitoshi yang merupakan murid Utagawa Kuniyoshi dan Ochiai Yoshiiku membuat kumpulan lukisan berjudul 28 Pembunuhan Terkenal dan Prosa (英名二十八衆句 Eimei nijūhachi shūku?). Kumpulan lukisan bertema sadis berlumuran darah seperti ini digolongkan ke dalam genre Muzan-e.

Kawanabe Kyōsai dari aliran Kanō juga banyak melahirkan karya-karya legendaris pada masa ini.

Genre baru ukiyo-e yang disebut Kōsenga dimulai Kobayashi Kiyochika dengan ciri khas objek lukisan yang digambar tanpa garis tepi (outline).

Lukisan ukiyo-e untuk anak-anak seperti yang dibuat Utagawa Yoshifuji digolongkan ke dalam genre Omocha-e. Gambar hasil penggandaan bisa digunakan anak-anak untuk bermain, seperti lembaran permainan yang sekarang sering menjadi bonus majalah anak-anak. Utagawa Yoshifuji begitu mengkhususkan diri pada genre Omocha-e, sehingga mendapat julukan “Omocha Yoshifuji” (Yoshifuji ahli mainan).

Kepopuleran ukiyo-e akhirnya memudar akibat berkembangnya fotografi dan teknik percetakan. Pelukis ukiyo-e berusaha segala macam cara untuk bertahan dari kemajuan teknologi tapi gagal.

Tsukioka Yoshitoshi dikenal sebagai grandmaster terakhir ukiyo-e. Karya-karyanya sangat bergaya Barat dan bersentuhan halus. Dari tangannya lahir karya-karya seperti surat kabar ukiyo-e (nishiki-e shimbun), lukisan bertema sejarah (rekishiga), dan lukisan bertema erotis (fūzokuga). Prihatin dengan kemunduran ukiyo-e, murid-muridnya disuruh untuk belajar hal-hal lain selain ukiyo-e. Salah seorang murid Yoshitoshi yang bernama Kaburaki Kiyokata berhasil menjadi pelukis Jepang yang sangat terkenal.

Bulan Mei di Jepang

Negara Jepang merupakan negara indah yang penuh dengan ritual dan festival. Di bulan Mei hampir di beberapa kota di Jepang menyelenggarakan festival cantik. beberapa festival tersebut terangkum berikut ini.

Tanggal 3 – 4 Mei

Hakata Dontaku Festival adalah festival tahunan yang besar di kota Fukuoka, dan lebih dari 2 juta pengunjung datang untuk melihat festival ini setiap tahun. Awalnya, Hakata Dontaku Festival adalah festival yang diselenggarakan di hari Tahun Baru, dan dimulai pada abad ke-12. Pada tahun 1871, Pemerintah Meiji menyebut liburan tersebut sebagai ” Zontag ” yang berarti “Minggu” dalam bahasa Belanda. Orang Hakata menyebutnya sebagai “dontaku”, dan akhirnya Festival ini diberi nama tersebut karena diadakan di hari libur yang ditetapkan pemerintah.

Hakata Dontaku di Fukuoka yang menampilkan arak-arakan dewa-dewa legendaris dengan menunggang kuda.

   

Tanggal 3 – 5 Mei

Lomba Layang-layang, di Hamamatsu. Peserta lomba menaikkan layang-layang besar untuk mencoba memutuskan tali layang-layang lawannya.

      

Tanggal 5 Mei

Hari Anak-anak diadakan di seluruh Jepang. Terkenal dengan Koinobori (bendera berbentuk ikan koi) yang berwarna-warni berkibar di angin musim semi.

Tanggal 11 Mei

Memancing dengan Burung Pecuk di Sungai Nagara, Gifu (Hingga 15 Oktober)

Tanggal 15 Mei

Aoi Matsuri atau Festival Bunga Hollyhock di Kyoto yang menampilkan pawai yang sangat indah.

Pertengahan Mei

Kanda Matsuri di Kuil Shinto Kanda Myojin di Tokyo (diadakan setiap tahun ganjil). Pada festival ini lusinan mikoshi diarak-arak.

Tanggal 17 – 18 Mei

Festival Raya di Kuil Shinto Toshogu di Nikko. Menonjolkan sebuah prosesi yang spektakuler dengan lebih dari 1,000 orang yang mengenakan baju perang.

Hari Minggu Ke-3 di Bulan Mei

Mifune Matsuri di sungai Oi, Kyoto yang menampilkan pawai perahu-perahu kuno.

Hari Minggu Ke-3, dan hari Jum’at dan Sabtu sebelumnya di Bulan Mei

Sanja Matsuri di Kuil Shinto Asakusa, menampilkan pawai 3 mikoshi besar dan lebih dari 100 mikoshi kecil.

sumber: dari beberapa sumber

 

Wagashi 和菓子

Wagashi (和菓子, kue Jepang) adalah istilah bahasa Jepang untuk kue dan permen tradisional Jepang. Istilah wagashi digunakan untuk membedakan kue tradisional Jepang dengan kue dan permen dari Barat (Yōgashi) yang diperkenalkan orang Eropa ke Jepang sejak zaman Meiji. Kue dari Tiongkok yang diperkenalkan duta kaisar ke Dinasti Tang, dan kue yang disebut Namban-gashi yang diperkenalkan misionaris dari Eropa juga digolongkan ke dalam Wagashi.

Kue tradisional Jepang yang digolongkan ke dalam wagashi umumnya adalah berjenis-jenis mochi, manjū, dango, dan buah kering. Wagashi umumnya dibuat sebagai kue yang dihidangkan dalam upacara minum teh, sehingga sebagian besar wagashi hanya memiliki satu rasa, yakni rasa manis. Dalam upacara minum teh, wagashi yang dihidangkan tuan rumah harus dihabiskan sebelum meminum teh yang mungkin terasa pahit atau sepat.

Selain untuk dimakan, wagashi dituntut sebagai karya seni yang indah dilihat. Keindahan bentuk dan warna wagashi sering jauh lebih penting daripada rasanya. Selain itu, wagashi harus menggambarkan keindahan alam empat musim di Jepang. Di musim panas, misalnya, bentuk dan warna wagashi harus mencerminkan kesejukan bagi orang yang melihat. Wagashi musim panas sedapat mungkin terlihat sejuk atau transparan, sehingga sering memakai tepung Kuzu yang dibuat dari umbi Pueraria lobata. Wagashi musiman hanya dapat dinikmati pada musim tertentu. Agar-agar mizu yōkan misalnya, hanya tersedia pada musim panas, atau sakuramochi yang dimakan pada musim semi.